Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi · Bab 5b

Ayat 1

(1) Bingcu berkata, "Pik-i, matanya tidak mau melihat pemandangan yang buruk, telinganya tidak mau mendengar kata–kata yang buruk." (VI.B:6/2)

"Kepada yang bukan rajanya, ia tidak mau mengabdi; kepada yang bukan rakyatnya, ia tidak mau memerintah. Negara dalam keadaan teratur, ia mau menjabat kedudukan ; negara kalut, ia mengundurkan diri. Di istana yang mengeluarkan peraturan–peraturan pemerintahan yang tidak patut, ditempat orang-orang yang berkelakuan tidak patut, ia tidak tahan tinggal. Ia berpikir, berkumpul dengan orang-orang yang berkelakuan buruk, itu sama dengan mengenakan pakaian dan topi kerajaan duduk di antara lumpur dan abu. Ketika Raja Tiu memerintah, ia pergi menetap di pantai Laut Utara. Dengan demikian ia mengajak dunia berlaku bersih. Maka yang mendengar perihal Pik-i, yang mula–mula busuk, menjadi suci; yang mula -mula lemah, menjadi teguh cita." (IIA: 2/9; IVA:13/1).

(2) "I-ien berkata, 'Apa arti mengabdi kepada yang bukan rajanya? Apa arti memerintah yang bukan rakyat nya? Negara teratur mau menjabat kedudukan, negara kalutpun mau menjabat kedudukan.' Ia juga berkata, 'Tuhan Yang Maha Esa menjelmakan rakyat, menitahkan agar yang mengerti lebih dahulu menyedarkan yang belum mengerti; yang insaf lebih dahulu menyedarkan yang belum insaf. Aku adalah diantara rakyat Tuhan YME yang sudah insaf lebih dahulu, maka kewajibankulah dengan Jalan Suci menyedarkan rakyat.' Ia berpikir kalau rakyat di dunia, laki–laki maupun wanita; ada yang tidak beroleh berkah Ajaran Giau dan Sun, ia merasa seperti dirinyalah yang telah menjerumuskannya ke dalam selokan. Ia merasa berkewajiban memikul beban berat dunia ini." (IIA: 2/22 – 24 ; VA : 7)

(3) "Liuhe Hwi tidak malu bekerja pada raja yang buruk, ia tidak menolak kedudukan rendah. Bila memangku jabatan, ia tidak menyembunyikan kebijaksanaannya, ia tentu berusaha melaksanakan Jalan Suci. Kehilangan jabatan, iapun tidak menggerutu. Biarpun kehidupannya terjepit oleh kesengsaraan, iapun tidak bersedih. Berkumpul dengan orang-orang kampung, ia begitu tentram dan tidak sampai hati meninggalkan begitu saja. 'Kamu ialah kamu, aku ialah aku. Walau kamu, berdiri di sampingku dengan dada dan lengan terbuka, bahkan bertelanjang sekalipun, masakan kamu dapat menodai diriku.' Maka yang mendengar perihal Liuhe Hwi, yang mula-mula sempit pandangan menjadi luas pandangan; yang mula-mula pelupa budi menjadi tahu budi." (IIA.9)

(4) "Khongcu ketika meninggalkan Negeri Cee, beliau cepat-cepat berjalan. Ketika meninggalkan Negeri Lo, beliau bersabda, 'Baiklah Kulambatkan jalan-Ku.' Ini sudah sewajarnya orang yang hendak meninggalkan negeri orang tuanya. Bila sebaiknya bersegera, bersegera; bila sebaiknya berlama-lama, berlama-lama; bila sebaiknya berhenti, berhenti; dan bila sebaiknya memangku jabatan, memangku jabatan. Inilah sikap Khongcu." (VIIB: 17)

(5) Bingcu berkata, "Pik-i, ialah Nabi Kesucian, I-en ialah Nabi Kewajiban, Liu-he Hwi ialah Nabi Keharmonisan dan Khongcu ialah Nabi segala masa."

(6) "Maka Khongcu dinamakan : Yang Lengkap, Besar, Sempurna. Yang dimaksud dengan Lengkap, Besar, Sempurna ialah seperti suara musik yang lengkap dengan lonceng dari logam dan lonceng dari batu kumala. Suara lonceng dari logam sebagai pembuka lagu dan lonceng dari kumala sebagai penutup lagu. Sebagai pembuka lagu yang memadukan keharmonisan, ialah menunjukkan KebijaksanaanNya dalam melakukan pekerjaan dan sebagai penutup lagu, ialah menunjukkan pekerjaan kenabianNya."

(7) "KebijaksanaanNya ialah sebagai tepatnya jalan anak panah, dan KenabianNya ialah sebagai tenaga pendorongnya. Sebagai seorang pemanah dari jarak 100 tindak, kalau anak panahnya bisa mencapai sasaran, itulah karena tenaganya; tetapi hal ketepatannya bukanlah sekedar kekuatannya."