Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi · Bab 5b

Ayat 4

(1) Ban-ciang bertanya, "Memberanikan bertanya, perasaan apakah yang dikandung dalam hati orang yang mengirim hadiah persahabatan?"

Bingcu menjawab, "Rasa hormat!"

(2) "Kalau orang menolak hadiah itu, mengapakah dapat dinamai kurang hormat?" "Kalau seorang pembesar mengirim suatu hadiah, orang tentu lalu berpikir, 'Aku ingin tahu barang ini diperoleh dengan berlandas Kebenaran atau tidak berlandas Kebenaran, baharu aku mau menerimanya?' Inilah sebabnya lalu dikatakan tidak hormat, maka hal itu janganlah ditolak."

(3) "Kalau alasan penolakan itu tidak diucapkan terang-terang, hanya di dalam hati berkata, 'Ini tentu diperoleh dengan tidak berlandas Kebenaran dari rakyat'. Lalu dengan alasan lain ia menolaknya, tidak bolehkah demikian?" "Kalau memberinya berlandas Jalan Suci, dan cara menyampaikannya dengan Kesusilaan, biar Khongcu mau juga menerimanya."

(4) Ban-ciang bertanya, "Kini kalau ada orang merampok dan membunuh orang di luar pintu negeri, lalu mengirimkan barang itu berlandas Jalan Suci dan cara menyampaikannya dengan Kesusilaan, bolehkah barang hasil rampokan itu diterima?"

"Tidak boleh! Di dalam Kitab Khong-koo tertulis, 'Orang yang membunuh orang, lalu menindih mayat itu untuk merampas barang-barangnya dengan sedikitpun tidak takut ancaman hukuman mati, semua rakyat jijik terhadapnya.' Maka kepada orang yang demikian boleh tanpadiperingatkan dijatuhi hukuman mati. Hukuman semacam ini, Dinasti Ien menerima dari Dinasti He, Dinasti Ciu menerima dari Dinasti Ien tanpa perubahan dan sampai sekarang masih dijalankan dengan keras. Bagaimanakah pemberian semacam itu boleh diterima?"

(5) "Rajamuda-rajamuda jaman ini dalam memeras rakyat sama halnya dengan orang yang merampok dan membunuh itu. Tetapi karena dipulas dengan hal-hal yang nampak baik, dengan segala adat upacaranya, lalu seorang Kuncu mau menerima pemberiannya; memberanikan bertanya, bagaimanakah hal itu?"

"Apakah kamu sangka kalau sekarang muncul seorang raja besar, lalu akan menghukum mati semua rajamuda-rajamuda itu? Ataukah ia akan memberi pendidikan lebih dahulu, setelah ternyata tidak mau memperbaiki diri, baharu menjatuhkan hukuman mati? Kalau orang menganggap tiap orang yang mengambil barang orang lain, lalu dipandang sebagai perampok; ialah hanya pandangan dari puncaknya Kebenaran. Ketika Khongcu memangku jabatan di Negeri Lo, di sana rakyat sering mengadakan perlombaan berburu di hutan, Khongcu juga mau mengikutinya. Kalau ikut berlomba berburu saja masih mau, betapa Beliau tidak mau menerima hadiah itu?"

(6) "Kalau begitu, sikap Khongcu dalam memangku jabatan, bukanlah pengabdian kepada Jalan Suci."

"Itu pengabdian kepada Jalan Suci!"

"Kalau mengabdi kepada Jalan Suci, mengapa ikut berburu?"

"Khongcu mulai dengan menertibkan alat-alat persembahyangan, tetapi tidak menetapkan bahwa tiap-tiap tempat sajian harus hanya diisi barang sajian tertentu saja yang sukar didapatkan."

"Kalau ternyata tidak berhasil, mengapakah tidak segera pergi?"

"Beliau berusaha melakukan tindakan pertama dahulu, dengan harapan tindakan pertama ini dapat berlaku. Kalau tidak berlaku, baharulah pergi. Inilah sebabnya beliau tidak pernah tetap memangku sesuatu jabatan lebih dari tiga tahun."

(7) "Khongcu pernah karena melihat AjaranNya dapat dijalankan lalu memangku jabatan. Pernah karena diterima dengan Hormat, lalu mau memangku jabatan; juga pernah karena mendapat tunjangan negara, lalu mau memangku jabatan. Beliau bekerja pada Kwi Hwancu, karena melihat kemungkinan AjaranNya dapat dilaksanakan. Beliau bekerja pada Rajamuda Ling dari Negeri Wee, karena mendapat sambutan dengan hormat, dan bekerja pada Rajamuda Hau dari Negeri Wee, karena mendapat tunjangan negara" (VIB.14)