Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi · Bab 7b

Ayat 37

(1) Banciang bertanya, "Ketika Khongcu di Negeri Tien, bersabda, 'Marilah pulang! Murid-muridKu di sana (di Negeri Lo) masih banyak yang bercita-cita tinggi dan berkemauan besar: mereka maju tetapi masih belum dapat meninggalkan kebiasaan-kebiasaan mereka.'" Ketika itu Khongcu di Negeri Tien, mengapa memikirkan Siswa-Siswa yang bercita-cita tinggi di Negeri Lo? ( S.S. V:22;XIII:21)

(2) Bingcu menjawab, "Ketikaitu Khongcu belum mendapatkan orang yang benar-benar dapat tepat di dalam Jalan Suci, maka memikirkan kepada mereka yang bercita-cita tinggi dan berhati-hati. Yang bercita-cita tinggi akan berusaha maju, dan yang berhati-hati tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Khongcu bukannya tidak inginkan murid yang bisa tepat di dalam Jalan Suci, tetapi karena tidak mendapatkannya, maka dicari yang tingkat kedua."

(3) "Memberanikan bertanya. bagaimana orang yang bercita-cita tinggi itu?" "Yaitu yang seperti Khiem Tiang, Cing Sik dan Bok Phi. Merekalah yang dinamakan bercita-cita tinggi oleh Khongcu."

(4) "Mengapa dinamakan yang bercita-cita tinggi?"

(5) "Sebab cita-cita maupun kata-katanya sangat tinggi. Sering mereka berkata, 'Demikianlah orang jaman dahulu. Demikianlah orang jaman dahulu. Tetapi kalau ditilik perbuatannya, ternyata belum sesuai dengan perkataannya.'"

(6) "Kalau tidak bisa mendapatkan orang yang bercita-cita tinggi, beliaupun mau mendapatkan Siswa yang tidak suka melakukan hal-hal yang tidak bersih. Demikianlah orang yang berhati-hati itu dan tingkat kedua, kalau dibandingkan tadi."

(7) "Khongcu berkata, 'Mereka yang melewati GerbangKu tetapi tidak mau masuk Ruang RumahKu, Aku tidak menyesalinya. Mereka ialah orang yang hanya pandai menarik perhatian untuk mendapat pujian di kampung halamannya. Orang yang pandai menarik perhatian untuk mendapat pujian di kampung halamannya itu sesungguhnya pencuri Kebajikan.'"

(8) "Bagaimanakah hal orang yang hanya pandai menarik perhatian untuk mendapat pujian di kampung halamannya itu?" ( S.S. XVIII :13 )

(9) "Mereka hanya pandai mencela orang-orang yang kata-katanya tinggi dengan berkata, 'Kata-katanya tidak sesuai dengan perbuatannya, perbuatannya tidak sesuai dengan kata-katanya, dan hanya bisa berkata: Demikianlah orang jaman dahulu! Demikianlah orang jaman dahulu!' Dan kepada orang yang bersikap hati-hati, mereka berkata, 'Mengapa mereka bersikap begitu diam dan dingin? dalam jaman ini, berbuatlah menurut jaman. Bukankah itu yang terbaik?.' Demikianlah sikapnya seperti budak-budak istana; merekalah yang dinamai orang yang hanya pandai menarik perhatian untuk mendapat pujian di kampung halamannya."

Banciang bertanya, "Orang-orang sekampung menganggap perbuatan mereka cocok, mengapa Khongcu menamakan mereka pencuri Kebajikan?"

(10) "Kalau hendak disalahkan, tidak ada yang dapat disalahkan. Kalau hendak dicela tidak ada yang dapat dicela. Mereka mengikuti adat yang ada, dan bersikap seolah-olah Setia dan Dapat Dipercaya, dapat berbuat seperti suci dan bersih sehingga umum suka kepadanya. Mereka menganggap dirinyalah paling betul dan tidak mau menerima Jalan Suci Giau dan Sun. Maka dinamai pencuri Kebajikan."

(11) "Khongcu bersabda, 'Akubenci hal-hal yang mirip tetapi palsu. Aku benci akan rumput perusak yang dapat mengacaukan tunas yang baik. Aku benci akan kata-kata muslihat yang dapat mengacaukan Kebenaran. Aku benci akan mulut yang tajam yang dapat mengacaukan sikap Dapat Dipercaya. Aku benci akan musik Negeri Ting yang dapat mengacaukan musik yang baik.Aku benci akan warna ungu yang dapat mengacaukan warna merah. Dan aku benci akan orang yang hanya pandai menarik perhatian untuk mendapat pujian di kampung halamannya karena akan mengacaukan Kebajikan.'" ( SS XV: 11;X:6 )

(12) "Seorang Kuncu harus mencari kembali aturan-aturan yang benar. Kalau aturan-aturan yang benar itu sudah dapat diluruskan kembali, rakyat niscaya dapat sadar. Setelah demikian maka segala hal yang menyimpang tadi akan hilang dengan sendirinya.