Si Shu

Kitab Empat · 四书

Meng Zi · Meng Zi

Bab 7b

Ayat 1

(1) Bingcu berkata, "Sungguh, tidak berperi Cinta Kasih Raja Hwi dari Negeri Liang. Perbuatan Cinta Kasih itu dimulai terhadap orang yang disayangi selanjutnya sampai juga kepada orang yang tidak disayangi. Perbuatan tidak Cinta Kasih itu dimulai terhadap orang yang tidak disayangi selanjutnya sampai juga kepada orang yang disayangi." (IA :5)

(2) Kongsun Thio bertanya, "Bagaimana penjelasannya?" "Raja Hwi dari Negeri Liang, karena berebut tanah ia membinasakan rakyatnya dengan mengerahkan mereka berperang. Setelah kalah besar, ia khawatir akan kalah lagi; anak dan adiknya yang dicintainyapun dikirim untuk dikubur bersama mereka."

"Maka kukatakan : 'Perbuatan yang dimulai terhadap orang yang tidak disayangi itu selanjutnya sampai juga kepada orang yang disayangi.'"

Ayat 2

(1) Bingcu berkata, "Apa yang disebutkan di dalam Kitab Chun Chiu, tiada satu peperangan yang dilakukan berlandaskan Kebenaran; hanya alasan yang satu mungkin lebih baik dari yang lain."

(2) "Istilah menghukum itu hanya berlaku kalau atasan menghukum bawahan. Tetapi kalau antara negara-negara yang sederajat, itu tidak dapat dinamakan tindakan menghukum."

Ayat 3

(1) Bingcu berkata, "Kalau Kitab itu harus dipercaya begitu saja, lebih baik tidak usah ada Kitab."

(2) "Terhadap Kitab Bu Sing, hanya dua atau tiga lembar saja dapat kupercaya."

(3) "Orang yang berperi Cinta Kasih, tidak ada musuhnya di dunia. Bilamana orang yang sempurna Cinta Kasihnya menghukum orang yang sudah memuncak kejahatannya, bagaimanakah dapat terjadi banjir darah yang dapat menghanyutkan alu?"

Ayat 4

(1) Bingcu berkata, "Ada orang berkata 'Aku pandai mengatur barisan, aku pandai berperang. 'Orang demikian ini ialah orang yang besar dosanya." (IVA:14/3)

(2) "Seorang kepala negara yang suka akan Cinta Kasih tiada musuhnya di Dunia."

(3) "Dahulu ketika (Sing Thong) menghukum daerah Selatan, suku bangsa Tik di Utara merasa menyesal. Daerah Timur dihukum, suku bangsa I di Barat merasa menyesal dan berkata 'Mengapa kita dibelakangkan? ' "(IB.11)

(4) "Ketika Raja Bu menyerbu Dinasti Ien, hanya dengan 300 kereta perang dan 3000 orang tentara Laskar Harimau."

(5) "Raja Bu berkata, 'Janganlah takut! Aku akan memberimu ketentraman, aku bukan musuh rakyat.' Mereka lalu menundukkan kepala sampai ketanah seperti hewan lepas tanduknya." (SuKing V.IB).

(6) "Istilah menghukum berarti meluruskan. Masing-masing negeri sesungguhnya ingin diluruskan. Maka apakah perlunya berperang?"

Ayat 5

Bingcu berkata, "Seorang tukang kayu atau tukang membuat kereta, dapat mengajar bagaimana menggunakan siku dan jangka tetapi tidak dapat menjadikan orang itu mahir."

Ayat 6

Bingcu berkata, "Sun (ketika masih miskin) makan nasi kering dan sayuran, dan dia berlaku seolah-olah akan selamanya demikian. Kemudian setelah menjadi raja dan mengenakan pakaian bersulam, bermain celempung dan dilayani kedua isterinya, nampaknya juga seperti memang seharusnya demikian." (VA:2/3).

Ayat 7

Bingcu berkata, "Baru kini aku mengerti betapa beratnya orang yang membunuh sanak saudara orang, Yang membunuh ayah seseorang, ayahnya akan dibunuh orang. Yang membunuh kakak orang, kakaknya akan dibunuh orang. Jadi seperti dirinya sendiri melakukan pembunuhan terhadapnya."

Ayat 8

(1) Bingcu berkata, "Orang jaman dahulu membuat pintu kota untuk mencegah perbuatan jahat."(IB: 5/3;IIA: 6/2)

(2) "Kini orang membuat pintu kota untuk dapat berbuat jahat."

Ayat 9

Bingcu berkata, "Kalau diri sendiri tidak mau menempuh Jalan Suci, anak istrinyapun tidak akan mau menempuhnya. Menyuruh orang, kalau tidak berlandaskan Jalan Suci, biarpun anak isteri sendiri tidak akan mau melaksanakan."

Ayat 10

Bingcu berkata, "Orang yang mempunyai simpanan harta, dalam tahun-tahun paceklikpun tidak akan binasa. Kalau orang mempunyai simpanan Kebajikan, biarpun dunia kalut tidak akan terkacaukan."

Ayat 11

Bingcu berkata, "Orang yang suka nama baik, ia akan dapat menolak, biarpun pemberian berupa negara yang berkuasa atas seribu kereta. Tetapi orang yang tidak benar-benar suka berbuat demikian, akan nampak diwajahnya biarpun hanya pemberian berupa sebakul nasi atau semangkuk sayur."

Ayat 12

(1) Bingcu berkata, "Kalau tidak mau menaruh percaya kepada orang yang berperi Cinta Kasih dan Bijaksana, itu berarti negara kosong."

(2) "Kalau tiada Kesusilaan dan Kebenaran itu berarti hubungan antara atasan dan bawahan sudah kacau."

(3) "Kalau tiada peraturan pemerintah tentang berbagai jawatannya, penghasilan negara tidak akan dapat mencukupi."

Ayat 13

Bingcu berkata, "Yang tidak berperi Cinta Kasih tetapi memperoleh negara, itu memang ada. Yang tidak berperi Cinta Kasih tetapi memperoleh dunia, itu belum pernah ada."

Ayat 14

(1) Bingcu berkata, "Rakyat itulah yang termulia, tempat-tempat ibadah itulah yang kedua, sedang raja ialah yang paling ringan artinya."

(2) "Maka yang beroleh simpati rakyat akan dapat menjadi raja. Yang beroleh simpati raja hanya dapat menjadi rajamuda, dan yang beroleh simpati rajamuda hanya bisa menjadi pembesar."

(3) "Seorang rajamuda kalau perbuatannya dapat membahayakan kesucian rumah ibadah, akan digeser kedudukannya."

(4) "Sedang rumah ibadah itu setelah diperlengkapi dengan hewan-hewan korban, sudah diatur sajian dari hasil bumi, dan dilakukan upacara tepat pada waktunya; kalau masih juga datang bahaya kering dan banjir, rumah ibadah itu juga akan dipindah tempatnya."

Ayat 15

Bingcu berkata, "Seorang Nabi ialah guru bagi beratus jaman. Pik-i dan Liuhe Hwi termasuk pula. Maka yang mendengar perihal Pik-i, yang mula-mula busuk menjadi suci hati, dan yang mula-mula lemah menjadi teguh cita. Yang mendengar perihal Liu-he Hwi, yang mula-mula pelupa budi menjadi tahu budi, dan yang mula-mula sempit pandangan menjadi luas pandangan. (VB: 1) Mereka telah termasyhur seratus jaman yang lalu, tetapi seratus jaman kemudian, orang yang mendengar tiada yang tidak sadar pula. Kalau bukan seorang Nabi, betapa dapat demikian? Maka orang yang dapat hidup dekat dengannya, alangkah besar perubahan akan terjadi atasnya."

Ayat 16

Bingcu berkata, "Cinta Kasih itulah Kemanusiaan, dan kalau kata itu telah satu dengan perbuatan, itulah Jalan Suci." (T.S. XIX: 5; S .S. XV : 29)

Ayat 17

Bingcu berkata, "Ketika Khongcu meninggalkan Negeri Lo, bersabda, 'Baiklah Kulambatkan Jalanku.' Ini sudah sewajarnya orang yang hendak meninggalkan negeri orang tuanya. Ketika meninggalkan Negeri Cee, beliau cepat-cepat berjalan. Ini sudah sewajarnya orang yang hendak meninggalkan negeri lain." (V B ¼).

Ayat 18

Bingcu berkata, "Para Kuncu menanggung sengsara di daerah antara Negeri Tien dan Chai, tidak lain karena di negeri itu tidak ada hubungan baik antara atasan dan bawahan." (S.S.XI :2)

Ayat 19

(1)Bik Khee berkata, "Khee banyak mendapat celaan."

(2) Bingcu berkata, "Jangan susah! Seorang Siswa memang lebih banyak menerima celaan."

(3) "Di dalam Kitab Sanjak tertulis 'Betapa pedih hatiku, aku banyak dibenci orang-orang itu. Itu boleh melukiskan Khongcu. Biar ia tidak dapat menghilangkan kebencian mereka, namun tak ternoda akan dirinya. Itu boleh melukiskan Raja Bun.'" (I.3.1.4;III.1.3.8. )

Ayat 20

Bingcu berkata, "Para Bijaksana dengan penerangan batin yang telah diperolehnya memimpin orang memperoleh penerangan. Tetapi kini orang- orang dengan kebodohannya ingin memimpin orang memperoleh penerangan."

Ayat 21

Bingcu berkata kepada Koocu, "Lihatlah jalan kecil bekas diinjak orang di pegunungan, kalau selalu dilalui akan dapat menjadi jalan besar; tetapi, kalau tidak terus dilalui akan kembali tertutup oleh alang-alang. Alang-alang itu kini menutupi hatimu."

Ayat 22

(1) Koocu berkata, "Musik ciptaan Raja I lebih baik dari musik ciptaan Raja Bun."

(2) Bingcu bertanya, "Mengapa kamu katakan demikian?"

"Sebab lonceng musik Raja I ternyata hampir putus lubang pcnggantungnya."

(3) "Masakan itu cukup membuktikan? Adakah lekuk-lekuk bekas roda kereta pada ambang pintu kota itu, hanya akibat tenaga dua ekor kuda saja?"

Ayat 23

(1) Di Negeri Cee terjadi bahaya kelaparan, Tien-Cien berkata, "Orang-orang senegeri mengira pula, guru akan meminta kepada raja membuka gudang berasnya di Tong itu. Tidakkah guru akan melakukan lagi?"

(2) Bingcu berkata, "Aku nanti berbuat seperti Phang Hu kalau begitu. Di Negeri Cien ada seorang bernama Phang Hu yang pandai menangkap harimau, kemudian ia menjadi seorang Siswa yang terkenal baik. Suatu hari ketika ia pergi ke hutan, bertemu dengan orang-orang yang mengejar harimau. Akhirnya harimau itu bersembunyi di sebuah sudut gunung, dan tidak ada yang berani mendekatinya. Ketika mereka melihat Phang Hu lalu menjumpainya. Phang Hu dengan mementang tangannya turun dari kereta. Orang-orang itu menjadi senang. Tetapi dia ditertawakan oleh para Siswa."

Ayat 24

(1) Bingcu berkata, "(Hasrat) mulut terhadap kelezatan, mata terhadap keindahan, telinga terhadap kemerduan, hidung terhadap bau-bauan, anggota badan terhadap kenikmatan dalam istirahat; itu memang sudah wajar menurut wataknya. Akan tetapi semuanya ini dibatasi oleh adanya Firman, maka seorang Kuncu tidak menamakannya Watak Sejati."

(2) "Hendaknya terdapat Cinta Kasih antara ayah dan anak; terdapat Kebenaran antara pemimpin dan pembantu; terdapat Kesusilaan antara tamu dan tuan rumah; terdapat Kebijaksanaan untuk mengenal para Bijaksana dan mengikuti Jalan Suci Tuhan YME yang dibawakan oleh para Nabi. Semua nya ini ialah Firman. Manusia mempunyai Watak Sejati, maka seorang Kuncu tidak menamakan itu sekedar Firman."

Ayat 25

(1) Hoo-sing Put-hai bertanya, "Orang macam apakah Gakcingcu itu?"

Bingcu menjawab : "Dia seorang yang Baik, seorang yang Dapat Dipercaya."

(2) "Apakah yang dinamai Baik? Apakah yang dinamai Dapat Dipercaya?"

(3) "Orang yang keinginan-keinginannya memang layak, dinamai. Baik." ( VIB:13)

(4) "Yang dirinya memang benar-benar mempunyai Kebaikan itu dinamai Dapat Dipercaya."

(5) "Yang dapat melaksanakan sepenuhnya (Kebaikan itu) dinamai Indah."

(6) "Yang sudah sepenuhnya sehingga bercahaya dinamai Besar."

(7) "Yang Besar sehingga dapat membawa pengaruh perubahan dinamai Nabi." (S.S. VII : 26)

(8) "Dan sifat kenabian yang sampai tidak dapat diperkirakan lagi, itulah mensifatkan Tuhan (Sien) sendiri."

(9) "Gakcingcu sudah di antara kedua sifat itu tetapi masih di bawah keempat sifat yang lain."

Ayat 26

(1) Bingcu berkata, "Orang yang lari, dari ajaran Bikcu akan kembali kepada ajaran Yangcu. Yang lari dari ajaran Yangcu akan kembali kepada agama Ji. Kalau mereka mau kembali haruslah diterima baik-baik."

(2) "Kini mereka yang mencela orang-orang yang mengikuti ajaran Yang dan Bik, mereka itu berbuat seperti mengejar babi yang lepas dan setelah kembali ke kandang masih akan mengikat kakinya lagi."

Ayat 27

Bingcu berkata, "Pajak yang dipungut negara ada yang berupa kain dan sutera, ada yang berupa padi atau beras, dan ada yang berupa tenaga. Bila seorang pembesar memungut yang semacam hendaklah menunda yang dua macam itu. Kalau yang dua itu diminta bersama, rakyat akan mati kelaparan: dan kalau ketiganya diminta bersama, maka antara ayah dan anak akan saling berpisahan."

Ayat 28

Bingcu berkata, "Seorang rajamuda harus memandang tiga hal sebagai mestikanya: tanah air, rakyat, dan pemerintahan. Kalau ia memandang permata dan batu giok saja sebagai mestikanya, bahaya niscaya menimpa dirinya."

Ayat 29

Phunsing Kwat memangku jabatan di Negeri Cee. Bingcu berkata, "Akan binasa Phunsing Kwat."

Kemudian ternyata Phunsing Kwat benar-benar mati terbunuh. Murid-murid bertanya,"Bagaimana guru tahu dia akan mati terbunuh?"

"Dia sebagai orang, sedikit kepandaiannya dan belum mendengar Jalan Suci Besar seorang Kuncu. Dua cacat ini sudah cukup membawanya binasa."

Ayat 30

Ketika Bingcu di Negeri Tin bermalam di istana yang disediakan untuk Para tamu agung. Ketika itu ada sebuah terompah rumput yang belum selesai dibuat, diletakkan pada suatu jendela dan ketika dicari oleh penjaga istana itu ternyata tidak didapati.

(2) Ada orang bertanya, "Tidakkah itu disembunyikan pengikut guru?" "Tuan mengira pengikutku ini datang kemari untuk mencuri terompah?"

"Saya kira tidak. Hanya saja cara guru menerima murid, tidak mau mengusut asal usulnya dan tidak menolak mereka yang datang. Asal datang baik-baik, dengan maksud belajar lalu guru terima!"

Ayat 31

(1) Bingcu berkata "Orang tentu mempunyai perasaan tidak tega akan sesama manusia. Bila dikembangkan sampai berhasil, itulah Cinta Kasih. Orang tentu mempunyai perasaan adanya hal-hal yang tidak layak dilakukan. Bila dikembangkan sampai berhasil, itulah Kebenaran."

(2) "Bila orang dapat meluaskan keinginan untuk tidak mencelakai orang, Cinta Kasihnya tentu tidak dapat dikalahkan. Bila orang mau meluaskan sifat hatinya yang tidak mau melompati pagar atau melubangi rumah orang, niscaya kesadaran Kebenarannya tidak dapat dikalahkan."

(3) "Bila orang mau meluaskan sifat hati tidak suka ditunjuk-tunjuk orang, niscaya di manapun akan berusaha berbuat Benar."

(4) "Bila orang berbicara sebelum saat berbicara, ini berarti membelokkan bicara. Sebaliknya pada saat harus berbicara tidak mau berbicara, ini akan membelokkan bicara orang dengan tidak berbicara. Hal ini sama saja dengan melompati pagar dan melubangi rumah orang."

Ayat 32

(1) Bingcu berkata, "Kata-kata yang dapat menggunakan hal-hal yang dekat sebagai perumpamaan untuk menunjukkan hal-hal yang jauh, itulah kata-kata yang baik. Peraturan yang mudah dipahami tetapi mengandung hal-hal yang luas, itulah peraturan yang baik. Kata-kata seorang Kuncu itu tidak berlarut-larut tetapi Jalan Suci terpelihara di dalamnya."

(2) "Seorang Kuncu selalu berusaha dengan membina diri dapat membawa damai bagi dunia."

(3) "Tetapi cacat orang ialah mereka menyia-nyiakan sawah sendiri dan menyiangi sawah orang lain. Membebani orang-orang lain dengan kewajiban yang berat, dan membebani diri sendiri dengan kewajiban yang ringan."

Ayat 33

(1) Bingcu berkata : "Raja Giau dan Sun dipimpin oleh Watak Sejatinya :Raja Thong dan Raja Bu dipimpin oleh usahanya." (VIIA : 30)

(2) "Bila segenap gerak, wajah dan tingkah laku dapat tepat dengan Kesusilaan, itu tentu karena sudah mencapai Puncak Kebajikan Sempurna."

(3) "Menangisi orang mati itu ialah karena sedih, bukan untuk dilihat yang masih hidup."

(4) "Menjalankan Kebajikan janganlah ragu-ragu, dan jangan sekedar untuk mendapat upah."

(5) "Berbicara hendaklah Dapat Dipercaya, jangan hanya sekedar menunjukkan mau berlaku lurus."

(6) "Seorang Kuncu berbuat dengan berlandaskan hukum, akan hasilnya berserah kepada Firman."

Ayat 34

(1) Bingcu berkata, "Kalau hendak memberi nasihat kepada seorang pembesar, harus dapat memandang ringan kepadanya, jangan memandang kebesaran atau kementerengannya."

(2) "Istana yang bagus dengan tembok yang tinggi dan tiang-tiangnya yang besar; kalau citaku berhasil, bukan itu yang kuharapkan. Makanan yang tersaji di atas meja sampai beberapa depa, pelayanan oleh dayang-dayang yang ratusan jumlahnya; kalau citaku berhasil, bukan itu yang kuharapkan. Dapat bersenang-senang, minum arak atau berburu diantar dengan ribuan kereta ; kalau citaku berhasil, bukan itu yang kuharapkan. Kalau semua yang dibanggakan itu bukan yang kuharapkan, dan yang ada pada diriku ialah ajaran-ajaran orang-orang jaman dahulu itu, mengapa aku mesti merasa takut kepadanya?"

Ayat 35

Bingcu berkata, "Untuk memelihara Hati, tiada yang lebih baik daripada mengurangi keinginan. Kalau orang dapat mengurangi keinginan, meskipun ada kalanya tidak dapat menahannya, niscaya tiada seberapa. Kalau orang banyak keinginan-keinginannya, meskipun ada kalanya ia dapat menahannya, niscaya tiada seberapa."

Ayat 36

Dahulu Cing Sik suka makan kurma kambing. Kemudian, Cingcu tidak sampai hati makan kurma kambing.

Kongsun Thio bertanya, "Lebih enak manakah, daging cacah panggang dengan kurma kambing?"

Bingcu menjawab, "lebih enak daging cacah panggang."

Kongsun Thio berkata, "Nah, kalau begitu mengapa Cingcu mau makan daging cacah panggang dan tidak mau makan kurma kambing?"

"Daging cacah panggang itu semua orang suka memakannya, tetapi akan kurma kambing hanya dia menyukainya. Hal ini seperti orang tidak berani memakai nama orang tuanya tetapi memakai nama marganya. Ini karena nama marga itu dipakai semuanya, sedang nama orang tua itu hanya perseorangan."

Ayat 37

(1) Banciang bertanya, "Ketika Khongcu di Negeri Tien, bersabda, 'Marilah pulang! Murid-muridKu di sana (di Negeri Lo) masih banyak yang bercita-cita tinggi dan berkemauan besar: mereka maju tetapi masih belum dapat meninggalkan kebiasaan-kebiasaan mereka.'" Ketika itu Khongcu di Negeri Tien, mengapa memikirkan Siswa-Siswa yang bercita-cita tinggi di Negeri Lo? ( S.S. V:22;XIII:21)

(2) Bingcu menjawab, "Ketikaitu Khongcu belum mendapatkan orang yang benar-benar dapat tepat di dalam Jalan Suci, maka memikirkan kepada mereka yang bercita-cita tinggi dan berhati-hati. Yang bercita-cita tinggi akan berusaha maju, dan yang berhati-hati tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Khongcu bukannya tidak inginkan murid yang bisa tepat di dalam Jalan Suci, tetapi karena tidak mendapatkannya, maka dicari yang tingkat kedua."

(3) "Memberanikan bertanya. bagaimana orang yang bercita-cita tinggi itu?" "Yaitu yang seperti Khiem Tiang, Cing Sik dan Bok Phi. Merekalah yang dinamakan bercita-cita tinggi oleh Khongcu."

(4) "Mengapa dinamakan yang bercita-cita tinggi?"

(5) "Sebab cita-cita maupun kata-katanya sangat tinggi. Sering mereka berkata, 'Demikianlah orang jaman dahulu. Demikianlah orang jaman dahulu. Tetapi kalau ditilik perbuatannya, ternyata belum sesuai dengan perkataannya.'"

(6) "Kalau tidak bisa mendapatkan orang yang bercita-cita tinggi, beliaupun mau mendapatkan Siswa yang tidak suka melakukan hal-hal yang tidak bersih. Demikianlah orang yang berhati-hati itu dan tingkat kedua, kalau dibandingkan tadi."

(7) "Khongcu berkata, 'Mereka yang melewati GerbangKu tetapi tidak mau masuk Ruang RumahKu, Aku tidak menyesalinya. Mereka ialah orang yang hanya pandai menarik perhatian untuk mendapat pujian di kampung halamannya. Orang yang pandai menarik perhatian untuk mendapat pujian di kampung halamannya itu sesungguhnya pencuri Kebajikan.'"

(8) "Bagaimanakah hal orang yang hanya pandai menarik perhatian untuk mendapat pujian di kampung halamannya itu?" ( S.S. XVIII :13 )

(9) "Mereka hanya pandai mencela orang-orang yang kata-katanya tinggi dengan berkata, 'Kata-katanya tidak sesuai dengan perbuatannya, perbuatannya tidak sesuai dengan kata-katanya, dan hanya bisa berkata: Demikianlah orang jaman dahulu! Demikianlah orang jaman dahulu!' Dan kepada orang yang bersikap hati-hati, mereka berkata, 'Mengapa mereka bersikap begitu diam dan dingin? dalam jaman ini, berbuatlah menurut jaman. Bukankah itu yang terbaik?.' Demikianlah sikapnya seperti budak-budak istana; merekalah yang dinamai orang yang hanya pandai menarik perhatian untuk mendapat pujian di kampung halamannya."

Banciang bertanya, "Orang-orang sekampung menganggap perbuatan mereka cocok, mengapa Khongcu menamakan mereka pencuri Kebajikan?"

(10) "Kalau hendak disalahkan, tidak ada yang dapat disalahkan. Kalau hendak dicela tidak ada yang dapat dicela. Mereka mengikuti adat yang ada, dan bersikap seolah-olah Setia dan Dapat Dipercaya, dapat berbuat seperti suci dan bersih sehingga umum suka kepadanya. Mereka menganggap dirinyalah paling betul dan tidak mau menerima Jalan Suci Giau dan Sun. Maka dinamai pencuri Kebajikan."

(11) "Khongcu bersabda, 'Akubenci hal-hal yang mirip tetapi palsu. Aku benci akan rumput perusak yang dapat mengacaukan tunas yang baik. Aku benci akan kata-kata muslihat yang dapat mengacaukan Kebenaran. Aku benci akan mulut yang tajam yang dapat mengacaukan sikap Dapat Dipercaya. Aku benci akan musik Negeri Ting yang dapat mengacaukan musik yang baik.Aku benci akan warna ungu yang dapat mengacaukan warna merah. Dan aku benci akan orang yang hanya pandai menarik perhatian untuk mendapat pujian di kampung halamannya karena akan mengacaukan Kebajikan.'" ( SS XV: 11;X:6 )

(12) "Seorang Kuncu harus mencari kembali aturan-aturan yang benar. Kalau aturan-aturan yang benar itu sudah dapat diluruskan kembali, rakyat niscaya dapat sadar. Setelah demikian maka segala hal yang menyimpang tadi akan hilang dengan sendirinya.

Ayat 38

(1) Bingcu berkata, "Dari Giau dan Sun sampai Sing Thong kira-kira lima ratus tahun lamanya. Orang-orang seperti I dan Koo Yau masih dapat langsung mengenalnya, tetapi Sing Thong mengenalnya hanya karena mendengar."

(2) "Dari Sing Thong sampai Raja Bun kira-kira lima ratus tahun lamanya. Orang-orang seperti I-ien dan Lai-cu masih dapat langsung mengenalnya, tetapi Raja Bun mengenalnya hanya karena mendengar." (Su King IV.2)

(3) "Dari Raja Bun sampai Khongcu juga kira-kira lima ratus tahun lamanya. Orang-orang seperti Thai-kong Bong dan San Gi-sing masih dapat langsung mengenalnya. tetapi Khongcu mengenalnya karena mendengar" (IVA:13)

(4) "Dari Khongcu sampai sekarang, baru kira-kira seratus tahun. Kalau dilihat jarak waktu Nabi meninggalkan kita, belum terlalu jauh dan kediaman Nabi juga dekat saja, bahkan sangat dekat. Mengapa tiada yang meneruskan ajaranNya? Benarkah tiada yang meneruskan ajaran Nya?" ( IIB:13 ).