Cu-tiang berkata, "Seorang Siswa bila menghadapi bahaya, berani menetapi Firman; bila melihat keuntungan ingat akan Kebenaran; di dalam melakukan sembahyang, penuh khidmat; dan, dalam saat berkabung ingat akan pentingnya rasa sedih. Demikianlah ia mencukupi syarat." (S.S. XII : 20)
Bab 19
Cu-tiang berkata, "Seseorang yang memegang Kebajikan tetapi tidak mengembangkannya percaya akan Jalan Suci tetapi tidak sungguh-sungguh: ia ada, tidak menambah, dan ia tidak adapun tidak mengurangi."
(1) Murid Cu-he bertanya kepada Cu-tiang tentang cara bergaul. Cu-tiang berkata, "Apakah yang dikatakan Cu-he kepadamu?"
Jawabnya, "Bergaullah dengan orang yang patut diajak bergaul dan janganlah bergaul dengan orang yang tidak patut diajak bergaul."
(2) Cu-tiang berkata, "Yang pernah kudengar tidak demikian. 'Seorang Kuncu memuliakan para bijaksana dan bergaul dengan siapapun; ia memuji orang yang pandai dan menaruh belas kasihan kepada orang yang bodoh'. Kalau orang benar-benar bijaksana, mengapakah tidak mau bergaul dengan siapapun? Kalau tidak bijaksana, orang lain yang akan menolak kita. Bagaimanakah kita berani menolak orang?"
Cu-he berkata, "Hal-hal yang kecil mungkin ada pula faedahnya yang patut dilihat; tetapi, hal itu tidak dapat untuk mencapai yang jauh; maka seorang Kuncu tidak mau mengutamakannya."
Cu-he berkata, "Seorang yang tiap hari dapat mengetahui pelajaran-pelajaran yang belum dipahami dan tiap bulan tidak melupakan pelajaran-pelajaran yang sudah dipahami, ia boleh dikatakan suka belajar."
Cu-he berkata, "Yang banyak-banyak belajar dan penuh semangat (cita); yang suka bertanya dan mawas diri, bertenggang rasa; Cinta Kasih sudah di dalamnya"
Cu-he berkata, "Beratus tukang itu dengan mempunyai tempat bekerja, barulah dapat menyempurnakan hasilnya; seorang Kuncu dengan belajar barulah dapat mencapai Jalan Suci."
Cu-he berkata, "Bila seorang rendah budi berbuat salah, ia mesti menutupinya dengan hal-hal yang nampak indah."
Cu-he berkata, "Ada tiga perubahan pada seorang Kuncu: Dilihat dari jauh nampak agung, setelah dekat ternyata ramah-tamah, dan setelah didengar kata-katanya ternyata tegas."
Cu-he berkata, "Seorang Kuncu setelah memperoleh kepercayaan rakyat baru berani menyuruh mereka bekerja keras. Bila belum mendapat kepercayaan, niscaya akan dianggap menindas. Harus mendapat kepercayaan lebih dahulu sebelum memberi peringatan kepada atasannya. Bila belum mendapat kepercayaan, niscaya disangka hanya pandai menyalahkan."
Cu-he berkata, "Bila tidak melanggar garis-garis batas Kebajikan besar, orang akan dapat masuk-keluar Kebajikan kecil."
(1) Cu-yu berkata, "Murid-murid Cu-he hanya diberi pelajaran menyiram, menyapu, tanya jawab, menghadap dan mengundurkan diri. Ini boleh juga, tetapi bukankah tidak memadai? Kalau pelajaran-pelajaran pokok tidak diberikan, bagaimanakah ini?"
(2) Ketika Cu-he mendengar hal ini, berkata, "0, sungguh salah Gan-yu. Cara mengajar seorang Kuncu mendahulukan apa yang harus didahulukan, membelakangkan apa yang harus dibelakangkan. Ilmu itu ialah sebagai rumput dan pohon-pohonan, dapat pula digolong-golongkan menurut jenisnya. Cara mengajar seorang Kuncu, bagaimanakah dapat dikacaukan begitu saja? Yang dapat belajar dari permulaan sampai akhir pelajaran seluruhnya sempurna diterima, hanya seorang Nabi dapat mengerjakannya."
Cu-he berkata, "Kalau memangku jabatan, janganlah lupa memperdalam pelajaran. Dalam belajar, janganlah lupa pula melakukan tugas."
Cu-yu berkata, "Dalam hal berkabung, bila ada rasa sedih, itu sudah cukup." (S.S. III : 4)
Cu-yu berkata, "Sahabatku Cu-tiang itu dapat melaksanakan tugas yang sukar. Sayang, ia belum dapat tepat di dalam Cinta Kasih."
Cing-cu berkata, "Sungguh mempesonakan Cu-tiang itu! Tetapi sukar untuk bersama-sama dengannya menempuh Cinta Kasih."
Cingcu berkata, "Dahulu aku mendengar Guru bersabda, 'Dalam hidup sehari-hari kita tidak dapat memastikan betapa besar rasa cinta seseorang kepada orang tuanya. Ini akan jelas bila datang masa berkabung.' "
Cingcu berkata, "Dahulu aku mendengar Guru bersabda 'Laku Bakti Bing Congcu kepada orang tuanya, orang lain masih dapat melakukan. Tetapi hal tidak mengganti para pembantu dan cara pemerintahan mendiang ayahnya, sukar dilakukan orang lain.' "
Keluarga Bing akan mengangkat Yang Hu menjadi hakim. Yang Hu bertanya kepada Cingcu. Cingcu menjawab, "Saat ini para pembesar sudah banyak yang ingkar dari Jalan Suci dan rakyat lama terlunta-lunta. Maka kalau engkau memeriksa suatu perkara, haruslah mengenal perasaan orang itu. Kasihanilah dia, jangan hanya gembira dapat memutuskan suatu perkara."
Cu-khong berkata, "Kejahatan Raja Tiu sesungguhnya tidak sehebat yang diceritakan orang. Maka, seorang pemimpin hendaknya membenci segala perbuatan yang boleh menjerumuskan dirinya; karena, bila ia terjerumus, segenap kejahatan di dunia akan ditumpukkan kepadanya."
Cu-khong berkata, "Bila seorang pemimpin berbuat salah, akan laksana gerhana matahari atau bulan. Kesalahan itu akan dilihat semua orang. Tetapi kalau ia mau segera mengubahnya, rakyat akan merasa gembira."
(1) Kongsun Tiau dari Negeri Wee bertanya kepada Cu-khong, "Kepada siapakah Tiong-ni belajar?"
(2) Cu-khong menjawab, "Jalan Suci Raja Bun dan Bu belum musnah dari muka bumi, maka masih terdapat dalam diri tiap-tiap orang.
(3) "Seorang yang Bijaksana, akan mengenal Ajaran itu banyak-banyak. Yang tidak Bijaksana hanya dapat mengenalnya sedikit. Tidak ada tempat yang tidak terdapat Jalan Suci Raja Bun dan Bu. Masakan Guru tidak belajar? Tetapi haruskah Guru mempunyai seorang guru tertentu?"
(1) Sioksun Bu-siok di dalam musyawarahnya di istana berkata, Sesungguhnya Cu-khong itu lebih Bijaksana daripada Tiong-ni"
(2) Cuhok King-pik melaporkan hal itu kepada Cu-khong (S.S. XIV : 36)
(3) Cu-khong berkata: "Seumpama dinding istana, dinding istanaku hanya setinggi bahu sehingga tiap orang dapat melihat keindahan bangunan di dalamnya: sedangkan dinding istana Guru bertombak-tombak tingginya".
(4) "Kalau seseorang tidak mendapatkan pintu untuk memasukinya, tidak akan dapat melihat betapa indah Bio Leluhurnya dan betapa megah gedung-gedungnya. Sesungguhnya yang boleh mendapatkan pintu masuk itu tidaklah banyak. Maka, kalau tuanmu itu berkata demikian, bukankah itu sudah wajar?"
(1) Sioksun Bu-siok mencela Ajaran Tiong-ni.
(2) Cu-khong berkata, "Sia-sia saja ia berbuat demikian. Ajaran Tiong-ni tidak akan tercela. Kebijaksanaan orang-orang lain boleh diumpamakan sebagai bukit yang dapat dijelajahi dan dilewati. Sedangkan Ajaran Tiong-ni ialah laksana matahari dan bulan yang tak dapat diraih dan dijamah. Meskipun orang mencela, dapatkah ia merusakkan matahari dan bulan? Hal ini hanya menunjukkan ia tidak mengenal kemampuan diri sendiri."
(1) Tien Cu-khiem bertanya kepada Cu-khong "Guru begitu menghormati Tiong-ni, masakan benar-benar Ia lebih Bijaksana dari guru?"
(2) Cu-khong berkata, "Karena sepatah kata, orang bisa dianggap pandai; karena sepatah kata orang bisa dianggap bodoh. Maka berhati-hatilah dalam berkata".
(3) "Keluhuran Guru yang tidak tercapaikan itu ialah laksana langit yang tidak dapat kita naiki dengan tangga. Kalau Guru mendapatkan kedudukan atas sebuah negara atau sebuah keluarga, maka apa yang dikatakanNya berdiri, akan berdiri, dan yang diperintahkanNya akan terlaksana; Rakyat akan datang kepadaNya dan segala tindakanNya akan mendatangkan kesejahteraan. Maka dalam hidupNya, Beliau akan mendapatkan kemuliaan dan pada saat mangkatNya semua orang akan meratapiNya. Maka siapakah yang dapat menandingiNya?"